Himpunan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan Menyelenggarakan Aksi Nyata Inklusivitas: Berkunjung dan Berkreasi Bersama Siswa SLB D YABC Bandung

Salah satu aspek terpenting dalam pembangunan ekonomi adalah inklusivitas. Suatu negara wajib mengakomodasi kebutuhan dan memastikan setiap masyarakatnya mendapatkan peluang dan hak yang setara. Sayangnya, stigma terhadap kelompok penyandang disabilitas masih sangat eksis, membuat mereka kelompok yang seringkali terlupakan, direndahkan dan tidak diakui potensi dan kecerdasannya. Padahal, masyarakat berkebutuhan khusus mampu berkontribusi pada ekonomi seperti masyarakat non-disabilitas pada umumnya. 

Sebagai salah satu aksi inklusivitas, Himpunan Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Bisnis Kreatif dalam menyelenggarakan suatu projek: Business Economics Empowerment Program (BEEP). BEEP adalah acara yang berfokus pada pemberdayaan dan pengembangan potensi yang dikhususkan pada siswa Sekolah Luar Biasa D YPAC melalui pendekatan kreatif dan sosial. Kegiatan ini didasari dengan keterbatasan kesempatan siswa Sekolah Luar Biasa dalam mengembangkan kreativitas yang dimiliki, serta belum dimanfaatkan untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai guna serta nilai ekonomi. 

Kreativitas adalah talenta alami yang dimiliki semua manusia, di waktu yang sama, aktivitas yang memanfaatkan talenta ini sangat menyenangkan untuk dilakukan, hal ini menjadi alasan kedua Himpunan Mahasiswa membawakan pendekatan tersebut. Kegiatan ini membawakan tema “Bridging Creativity to Sustainable Empowerment”, dan membagi proyek menjadi lima bagian: pembuatan karya gambar dan lukis, unjuk hasil, penjualan dan promosi  hasil, penyerahan keuntungan pada pihak SLB D YPAC, dan publikasi edukasi mengenai potensi anak SLB. Acaranya sendiri dilaksanakan dalam dua hari. Hari pertama diisi dengan sesi permainan dan sesi pembuatan karya gambar dan lukis, yang nantinya akan dijadikan desain keychain serta tote bag. Hari kedua diisi dengan sesi pemaparan hasil dan pembagian hadiah dan penghargaan untuk para siswa. 

Keterbatasan fisik tidak berarti keterbatasan intelektual atau kemampuan untuk berprestasi. Banyak penyandang disabilitas mampu mencapai kesuksesan ketika diberikan akses dan peluang yang sama dengan masyarakat non-disabilitas. Salah satu contoh adalah Stephen Hawking, yang meskipun hidup dengan penyakit motor neuron dan mengalami kelumpuhan hampir total, tetap menjadi salah satu ilmuwan paling berpengaruh di dunia melalui kontribusinya dalam bidang kosmologi. Banyak orang dengan disabilitas mental berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi, bekerja secara profesional, menjalankan bisnis, atau berkarya di berbagai bidang ketika memperoleh dukungan yang memadai. Data Susenas 2020 yang dikutip Kemenko PMK menunjukkan bahwa akses penyandang disabilitas terhadap bantuan sosial berada di bawah 7% (bervariasi menurut tingkat disabilitas), jauh lebih rendah dibanding kelompok non-disabilitas. Oleh karena itu, menciptakan kesempatan yang setara bagi penyandang disabilitas bukan hanya persoalan keadilan sosial, tetapi juga upaya memaksimalkan potensi sumber daya manusia yang selama ini sering terabaikan.