Sejak Presiden Prabowo Subianto mulai memimpin pemerintahan pada Oktober 2024, posisi Menteri Keuangan telah diisi oleh tiga figur. Sri Mulyani Indrawati mengawali Kabinet Merah Putih, kemudian digantikan Purbaya Yudhi Sadewa pada September 2025. Setahun kemudian, pada 14 September 2026, Suahasil Nazara dilantik sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya. Tiga nama tersebut memiliki latar belakang dan pendekatan yang berbeda dalam melihat pengelolaan keuangan negara. Lantas, apa yang menjadi perhatian utama masing-masing?
Sri Mulyani: Menjaga Efisiensi dan Kesinambungan Fiskal
Sri Mulyani merupakan ekonom dan teknokrat yang telah lama menjadi salah satu tokoh utama kebijakan fiskal Indonesia. Ia kembali dipercaya menjadi Menteri Keuangan pada awal pemerintahan Prabowo setelah sebelumnya memimpin Kementerian Keuangan sejak 2016. Pada periode awal pemerintahan Prabowo, salah satu perhatian utama Sri Mulyani adalah menjaga kesinambungan fiskal di tengah kebutuhan membiayai berbagai program prioritas pemerintah. Efisiensi anggaran menjadi salah satu pendekatan penting, dengan mendorong belanja negara agar lebih produktif dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
Purbaya: Mendorong Pertumbuhan melalui Likuiditas
Pada September 2025, Purbaya Yudhi Sadewa mengambil alih posisi Menteri Keuangan. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Purbaya membawa penekanan yang lebih kuat pada percepatan pertumbuhan ekonomi. Salah satu kebijakan yang banyak mendapat perhatian adalah penempatan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun pada bank-bank Himbara untuk meningkatkan likuiditas dan mendorong penyaluran kredit. Logikanya sederhana: ketika likuiditas perbankan meningkat dan kredit lebih mudah mengalir, konsumsi, investasi, dan aktivitas dunia usaha diharapkan ikut bergerak.
Suahasil: Menjaga Kredibilitas APBN
Pada 14 September 2026, Suahasil Nazara dilantik sebagai Menteri Keuangan. Ia bukan sosok baru dalam kebijakan fiskal. Sebelumnya, Suahasil menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan sejak 2019 dan pernah memimpin Badan Kebijakan Fiskal (BKF). Ia juga merupakan akademisi dan Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia. Dalam pernyataan awalnya, Suahasil menekankan pentingnya menjaga kesehatan dan kredibilitas APBN, sekaligus memastikan anggaran tetap mendukung pertumbuhan dan program prioritas pemerintah.

Tiga Menteri, Tiga Penekanan
Perjalanan ketiganya menunjukkan bahwa kebijakan fiskal selalu berhadapan dengan berbagai tujuan sekaligus. Sri Mulyani menekankan efisiensi dan kesinambungan fiskal, Purbaya mendorong pertumbuhan melalui stimulus dan likuiditas, sementara Suahasil menempatkan kredibilitas APBN sebagai salah satu perhatian utama sambil tetap mendukung pertumbuhan. Pergantian ini menarik bukan hanya karena siapa yang menjadi Menteri Keuangan, tetapi karena memperlihatkan satu persoalan fundamental dalam ekonomi: bagaimana sumber daya negara yang terbatas digunakan untuk mencapai pertumbuhan, stabilitas, dan kesejahteraan secara bersamaan?
Pada akhirnya, kebijakan fiskal bukan sekadar soal berapa banyak uang yang dibelanjakan pemerintah, tetapi untuk apa uang tersebut digunakan, siapa yang memperoleh manfaat, bagaimana pembiayaannya, dan apakah kebijakan tersebut dapat dipertahankan dalam jangka panjang.


