Dalam upaya memperkuat kolaborasi antara akademisi dan pemerintah daerah, Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan (FE UNPAR) mengadakan pertemuan strategis dengan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Bandung pada Senin, 2 Maret 2026. Pertemuan ini menjadi momen penting bagi kedua belah pihak dalam meresmikan kerja sama melalui serah terima dokumen nota kesepahaman (MoU). Kerja sama ini mencakup tiga pilar utama Tridarma Perguruan Tinggi: pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat.
Lebih dari sekadar formalitas, pertemuan tersebut langsung mengerucut pada diskusi mengenai rencana tindak lanjut jangka pendek, terutama dalam bidang kolaborasi penelitian. Sinergi ini diharapkan mampu memberikan solusi berbasis data bagi tantangan pembangunan di Kabupaten Bandung. Kabar menggembirakan juga datang dari Pemerintah Kabupaten Bandung yang berkomitmen mendukung pendidikan tinggi bagi putra-putri daerahnya. Bupati Bandung secara resmi memutuskan untuk memberikan beasiswa khusus bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi UNPAR yang berasal dari Kabupaten Bandung.
Sebagai langkah awal implementasi, rangkaian acara dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) bersama jajaran Dinas Pertanian, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, serta Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Bandung. Diskusi ini membahas evaluasi dan keberlanjutan program yang telah dijalankan oleh Pusat Studi Ilmu Ekonomi (PSIE) UNPAR di wilayah Kabupaten Bandung.
Pertemuan dilanjutkan pada 11 Maret 2026 dengan tujuan khusus melanjutkan diskusi arah penelitian bersama. Pihak Prodi Ilmu Ekonomi UNPAR, yang diwakili oleh Ketua Program Studi, Ibu Ivantia Mokoginta, dan dosen Ibu Siwi Nugraheni dan Ibu Deba Luthfia, mengusulkan dua topik penelitian yang berhubungan dengan visi misi Bapperida Kabupaten Bandung.
Salah satu topik dari dua topik yang diusulkan mengangkat ketahanan sektor pertanian, khususnya komoditas kopi. Ibu Siwi menyoroti urgensi penelitian mengenai strategi adaptasi petani kopi di tengah perubahan iklim, di mana pola musim hujan yang tidak menentu telah memicu gagal panen akibat serangan jamur. Diskusi ini menekankan pentingnya pola penanaman agroforestry sebagai solusi ganda: menjaga kelestarian hutan sekaligus memberikan kontribusi ekonomi bagi petani. Dengan ini, Bapperida menyampaikan bahwa inovasi berbasis komunitas (community-based innovation) adalah kunci dari pintu keluar masalah yang dialami, dan bahwa Bapperida membuka peluang kemitraan internasional dengan pihak Australia untuk memperluas skala implementasinya.
Setelah itu, isu kesejahteraan sosial dan kesehatan menjadi inti diskusi kedua. Ibu Deba mengusulkan kajian mendalam mengenai peran modal sosial (social capital) dalam upaya penurunan angka stunting di tingkat daerah. Melalui metode pemetaan desa, penelitian ini bertujuan mengidentifikasi korelasi antara kekuatan modal sosial dengan prevalensi stunting, sehingga intervensi pemerintah dapat lebih tepat sasaran. Pihak Bapperida menyambut baik usulan ini dan berkomitmen membantu penyediaan data mikro di tingkat desa. Bapperida juga menambahkan bahwa inovasi masyarakat dan peran strategis bidan desa merupakan variabel kunci yang harus diperhatikan, mengingat kepercayaan masyarakat terhadap tenaga kesehatan lokal masih sangat tinggi.
Terakhir, diskusi menyentuh aspek ekonomi inklusif dan perlindungan tenaga kerja informal. Terdapat rencana kolaborasi antara BRIN dan UNPAR untuk meneliti peran BPJS Ketenagakerjaan dalam membangun resiliensi pekerja sektor informal di kawasan wisata. Hal ini sejalan dengan target pembangunan Bapperida tahun 2026 yang berfokus pada pengembangan ekonomi inklusif melalui Koperasi Merah Putih guna mengurangi kemiskinan dan mengatasi disparitas pendidikan. Di tengah tantangan aglomerasi dan tingginya alih fungsi lahan yang memicu bencana serta perubahan akses ekonomi, BPD berharap kolaborasi riset dengan FE UNPAR dapat memberikan rekomendasi kebijakan yang komprehensif untuk menjaga keseimbangan pembangunan wilayah terpadu di Kabupaten Bandung.


